• Beranda
  • Tentang Saya
  • Hubungi
facebook twitter instagram google plus

SHIMfony Pendakian

Karena mendaki kehidupan, akan lebih asyik jika diiringi SHIMfony yang bicara







Judul : Uhibbuka Fillah
Penulis : Ririn Rahayu Astuti Ningrum
Penerbit : WahyuQolbu
Terbit : 2014
Tebal : 304 halaman
ISBN : 979-795-825-6

“Adik, cinta kita bagai Laut Utara. Andai Kakak adalah ombak, Adik adalah pantai. Pantai yang selamanya setia menunggu ombak datang menyapa. Jika Kakak adalah hujan, maka Adik adalah pelangi. Pelangi tak senantiasa setia menunggu hujan reda untuk menampakkan dirinya. Berjanjilah.” (halaman 3)


Siapa sangka untaian janji yang diucapkan bocah SMP itu telah mampu memasung kesetiaan seorang anak perempuan pada cinta yang sulit?

Ya, seperti itulah kiranya yang terjadi pada Aini. Ia masih berharap akan janji Hasan untuk meminangnya suatu hari nanti (tanpa tahu dimana keberadaan Hasan sekarang). Bahkan setelah banyak tahun berlalu, tanpa kabar apupun darinya. Hanya satu yang menjadi penguatnya, ia yakin lelaki seshalih Hasan tidak akan mengabaikan janjinya.
 

Aini adalah adik kelas Hasan. Mereka sering berkirim surat untuk mengungkapkan kekaguman mereka pada sosok masing-masing meski takut akan dosa dan ketatnya peraturan di pesantren yang mereka tempati. Saat itu mereka memang mengenyam pendidikan di pesantren yang bersebelahan. Bahkan terkadang Aini mencuri pandangannya dengan mengintip ke bilik pesantren Hasan untuk mengobati kerinduannya akan sosok yang selalu menyita perhatiannya itu. Tetapi, ketika Hasan lulus SMP dan meninggalkan pesantren, maka tinggalah Aini yang harus tinggal dan menyelesaikan pendidikannya di Paciran, sebuah kota di Jawa Timur yang dinamai Bhumiku oleh Aini.

Perjalanan kesetiaan cinta Aini terus berlanjut, membawanya pada sosok Dana, pria yang tetap begitu tulus membantu Aini untuk menemukan cinta masa lalunya. Dana sesungguhnya sangat mencintai Aini dan pernah mengungkapkan perasaannya. Namun, Aini tidak mampu membalasnya karena hatinya masih  terpasung kesetian cintanya terhadap Hasan. Dana rela mencari Hasan tak lain hanya karena ingin melihat orang yang dikasihinya bahagia.

Setelah melakukan perjalanan penuh pergolakan batin untuk mengikhlaskan perasaannya, Dana menemukan Hasan. Tetapi, itu tidak menjadikan permasalahan Aini selesai. Dana harus rela bertambah sakitnya saat tahu jika Aini hanya akan mendapat luka karena Hasan telah melamar perempuan bernama Atiqa dan mereka akan segera melangsungkan pernikahan setelah Hasan diwisuda.


Kisah cinta ini kemudian menjadi dilemma saat Hasan menyadari kesalahannya. Ia yang tidak menyangka jika janji yang diucapkannya akan berdampak luar biasa untuk Aini. Ia merasa sangat bersalah. Rasa cinta yang telah lama ia kemasi seolah membludak ingin dibongkar kembali.  Ia berniat memperbaiki semuanya. Lantas bagaimana nasib Atiqa? Haruskah Hasan mengabaikan janjinya lagi untuk perempuan lain? Bagaimana perasaan Aini yang mengetahui hal ini? Dan, bagaimana nasib Dana yang semakin terluka? Mampukah mereka menggapai kesucian cinta yang selalu mereka agungkan?

 

Mbak Ririn Rahayu Astuti Ningrum mengemasnya dengan sentuhan yang sangat manis dalam novel ini. Dengan bahasa yang santun dan puitis, Mbak Ririn mampu membawa Uhibbuka Fillah pada hakikat cinta suci yang mengikhlaskn,  mengajak kita belajar menggali makna tentang cinta dan kepemilikannya. Bagaimana hakikat cinta itu berasal dari Allah dan hanya dengan mendekatkan diri kepada-Nya, kita mampu memantaskan diri pada kesucian cinta.

                            
Awalnya, saya bingung dengan perkataan Dr. Sulaiman Al-Kumayi, M.Ag jika novel ini bertutur jujur dan tanpa rekayasa, namun, setelah membacanya hanya dengan satu hari, saya mengerti maknanya. Mbak Ririn menyajikan novel ini dengan karakteristik tokoh yang kuat dan melenakan. Anda tidak akan membenci Hasan yang telah menodai kesetiaan Aini dalam novel ini. Semuanya dibahas jelas dan semakin menyadarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam berucap apalagi mengenai sebuah janji.

Selain itu, Uhibbuka Fillah cocok untuk dijadikan cerminan kita untuk belajar dan bermuhasabah dalam koridor yang religius. Novel ini diselipi beberapa kisah inspiratif dari tokoh-tokoh islam seperti Ummu Sulaim binti Milhan dan juga paduan ayat Al-Qur’an yang mendukung jalannya cerita. Jadi, novel ini bukanlah penggalian makna tanpa dasar.

“Bukan kita yang memilih takdir, tapi takdir yang memilih kita. Takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita harus selalu mencoba membidik dan melesatkannya pada saat yang tepat. Demikianlah pesan Shalahudin Al Ayyubi….”

Petikan kalimat yang ada dalam novel ini tidak hanya melulu tentang percintaan, tetapi, penggalian makna tentang upaya pengikhlasan diri pada kodrat dan takdir. Demikianlah, saya rasa novel ini sangat cocok untuk dibaca baik lelaki maupun perempuan karena di di dalamnya, banyak sekali pengaplikasian kehidupan yang berlandaskan Al-Quran dan ketentuan Allah… ^_^

Yuuuk… belajar dari kisah ini dan bercermin untuk menggapai kesucian cinta. Karena cinta pada dasarnya bukan keegoisan semata. Karena dasarnya cinta adalah kebahagiaan untuk penikmatnya.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar



Sering banget saya jumpai *termasuk di lingkungan keluarga* ketika anak jatuh, lalu orang tua menyalahkan lantai, batu, atau benda-benda yang menyebabkan anak jatuh… terkadang pake dipukul dan diserapahi : Dasar lantai bandel… Dasar batu nakal… de es be…


Haloo Bun, sadar tidak secara nggak langsung ini malah ngajarin anak buat melimpahkan kesalahan sama objek lain. Sudah jelas anak yang kurang hati-hati dan waspada.. kok malah lantainya yang dimarahi?


Share
Tweet
Pin
Share
7 komentar
Pagi ini sejenak setelah membuka mata, saya langsung tersadar jika ini bukan kamar saya. Ya, semalam memang saya memutuskan untuk menginap di kost-an teman karena terlalu malam jika harus pulang setelah sibuk membuat film.

Rasa malas langsung menyergap ketika suara keran air yang menyala terdengar oleh telinga. Dinginnya udara dan kelelahan hebat belakangan ini memang kerap berkolaborasi membuat keengganan melakukan rutinitas kian kokoh.  Tetapi, harus apalagi? Saya harus pulang.

Di dalam bus, nampak mahasiswa lain yang bercerita tentang kesibukannya. Hal ini seolah menyentak hati saya. Saya bukan satu-satunya orang yang sedang dirundung kesibukan. Tiba-tiba rasa rindu mengepung diri. Saya merindukan diri saya yang lalu. Diri saya dengan segala kenaif-an karena semangat yang menggebu.

Selajutnya, sepanjang perjalanan terasa seperti Sabtu merindu. Tidak perduli keadaan sekitar, saya menyelami diri saya sendiri. Siapa saya yang belakangan ini menyokong raga Mia Candra Sasmita? Mengapa banyak hal menyenangkan yang saya lewatkan? Kemana kenaifan diri saya yang tertuang dalam semangat?


Menulis, observasi, melaksanakan aktivitas perkuliahan, menjadi kuis hunter, selalu bisa menyempatkan waktu untuk keluarga dan sekitar juga berkirim surat cinta sesama teman dunia maya yang luar biasa nyata di mata saya. Saya rindu melakukan semuanya seperti dahulu, tanpa torerir rasa malas.

Sabtu merindu kali ini, membawa semangat lama saya bangkit dan berkompilasi dengan semangat baru yang berusaha untuk tidak goyah dengan kejenuhan, menuntaskan kerinduan yang menghayutkan.

Diikut sertakan dalam GA "Sabtu Merindu"
Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Tulisan ini terinspirasi dari kernet bus yang menceritakan anaknya.



Ayah anda yang seperti apa? Yang nampak antusias dan menunjukan kebanggannya, acuh atau bahkan menganggap remeh saat anda mendapatkan suatu kemajuan..

Tik... Tok..

Setiap ayah yang bertanggung jawab pasti menyanyagi anaknya. Mereka bangga terhadap keberhasilan yang diperoleh anaknya. Tetapi mereka tidak selalu bisa menunjukannya.


Mungkin tidak menjadi masalah jika ayah nampak bahagia dengan apa yang kita peroleh. Tapi jika ayah nampak acuh dan bahkan melontarkan perkataan yang terkesan meremehkan apa yang kita raih, rasanya pasti sakit. Itu sih yang terkadang banyak menjadikan suatu kesalahpahaman antara anak dan ayah. Anak yang merasa tidak pernah dihargai oleh ayahnya.

Tapi, ketahuilah, terkadang ayah melakukan itu bukan tanpa sebab. Tapi terkadang ia canggung karena merasa tidak memfasilitasi anaknya hingga memperoleh prestasi tersebut. Kadang juga ayah ingin jika anaknya tidak mudah puas atas apa yang telah diraih anaknya.

           
Sesungguhnya, harapan terbesar ayah adalah untuk dikalahkan anaknya.



Kenapa saya bicara demikian. Coba selama ini, alasan yang membuat seorang suami bekerja begitu giat apa? Pasti anak-istri kan? Kenapa anak lebih didahulukan dibanding istri? Karena anak adalah harapan setiap orang tua dan demi anak jugalah mereka rela bekerja dari pagi hingga petang, bahkan mengambil kerja tambahan demi memperoleh uang untuk memfasilitasi kehidupan anak . Tapi terkadang kesalahannya terletak disini. Anak tak jarang malah menyalahartikannya sebagai wujud ketidakperhatian ayah.


Seperti yang telah saya ucapkan di awal postingan ini, jika tulisan saya kali ini terinspirasi dari seorang kondektur bis. Ada hal menarik yang saya kira perlu untuk dibagikan. Waktu itu, cuaca cukup mendung di pagi hari. Dan, seperti biasa saya harus menggunakan bus untuk sampai di kampus, karena nyali saya yang ciut jika harus mengendarai motor lagi. Pertama, kondektur itu menyebrangkan seorang Ibu ke arah berlawanan dengan keberadaan si penumpang yang hendak naik *jujur ini langka sekali* Lama... tidak ada yang menarik, hingga naiklah seorang anak kecil berkopiyah dan menggunakan baju koko.

Kodektur dari bis yang saya tumpangi nampak antusias untuk memulai pembicaraan. Ia menepuk bahu si anak kecil itu, “Tong, (Otong = Panggilan sayang untuk anak kecil dalam bahasa sunda)  mondok tah? Mondok dimana? Kelas baraha?” (Ikut pesantrenkah? Pesantren dimana?Kelas berapa?)

“Di xxxxx kelas 5” (saya lupa nama pondok pesantrennya)
 

“Anak si AA *menunjuk ke dirinya sendiri* oge mondok, saumuran jeung otong, kelas 5.”
(Anak AA juga ikut pesantren, seumuran sama adek, kelas 5) Kondektur itu menunjukan rasa bangganya dengan perkataan yang menggebu.


Supir Bis akhirnya ikut menimpali. “Enya tah? Dipasantrenkeun si xxxx?” (Iyakah? Xxx *nama anak si kondektur itu* dipesantrenin?)

“Nya, atuh... lamun anak mah kudu beda jeung kolotna. Lamis sholeh tur sukses, entong jiga bapakna. Nah, tong... makananya kabener dipondokna, kabener sakolana, kashaleh. Kudu karunya kak Mimih jeung Bapa tos nyakolakeun otong.”
(iyalah... anak sih harus beda sama orangtuanya. Supaya sukses dan shaleh, tidak seperti bapaknya. Nah, makannya, Nak... yang bener di pesantrennya, yang bener sekolahnya, yang shaleh. Harus kasian sama Ibu dan bapa yang udah nyekolahin)


Sungguh saya terenyuh mendenggar ucapan kondektur itu. Mungkin terdengar biasa, namun saya langsung teringat ayah saya. Ayah saya hampir tidak pernah mengucapkan kebanggannya untuk saya di depan, tapi beberapa hari sebelumnya saya tahu jika ayah mengutarakan kebanggannya terhadap saya kepada sepupu saya yang jauh, saya sampai kaget pas denger cerita sepupu saya karena di depan saya, ayah nampak acuh meskipun jika di telpon kita selalu memanggil ‘sayang’. Dan yang lebih membahagiakan lagi, dia rentet menceritakan kebaikan saya dari jaman yang sampai saya sudah lupa hingga sekarang.  Mungkin ayah saya juga menceritakannya dengan begitu menggebu seperti kondektur tadi? Saya mengira-ngira, sampai tak terasa dengan tidak elitnya, air mata saya terjun bebas. 

Jujur, saya sering mengeluhkan kegilakerjaan ayah, contohnya bulan ini, ia diberikan libur sekitar 3 minggu setelah tugas di Dumay, tapi apa yang ia lakukan? Sampai di rumah tiga hari istirahat, ia memilih ikut bekerja di tempat yang lain sambil menunggu hari libur. Dan saya yakin, itu semua bukan karena memang ayah yang pada dasarnya nggak mau diem kalau di rumah juga. Saya yakin ayah saya pasti ingin mendapatkan penghasilan yang lebih untuk memfasilitasi saya dan saudara-saudara saya.

Masalah ketidakdekatan dengan ayah belakangan ini, saya sering tukar cerita dengan teman. Rata-rata juga sama, ayah mereka nampak kurang dekat dan nggak perhatian padahal sewaktu kecil, ayah selalu terasa ada dan dekat, saya rasa itu alasannya, karena semakin besar kita, maka semakin ingin pula orangtua memfasilitasi kita dengan kehidupan yang lebih agar kesuksesan mudah terjamah oleh kita. Mungkin dengan gila bekerja atau agak acuh karena permasalahan dan kekhawatiran yang tidak ia sampaikan juga membuat kerenggangan itu ada.

Oh ya, kembali ke kondektur tadi.  Setelah mengelap air mata, saya mendongak dan melihat kondektur itu. Anda tau penampilannya? Ada bekas tindikan di kupingnya, pakaiannya agak seperti preman. Tapi apa? Dia tetap ingin anaknya sukses. Bahkan ia ingin anaknya mengalahkan kesuksesannya. Dan, ia ingin anaknya shaleh, bisa beranfaat untuk banyak orang.

Ini jadi mengingatkan saya kepada ayah lagi. Sewaktu saya ingin memilih jurusan, Ayah bersikeras mempertahankan cita-cita saya sebagai akuntan, tetapi ibu saya menyarankan memilih jurusan keguruan karena kemudahannya nanti dalam membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Tau alasan ayah? Beliau mengatakan, sayang banget kan kamu bisa sukses jadi akuntan, kerja enak di ruangan yang nyaman, profesi yang keren bla bla bla... dan lagi... lagi... saya dapat menyimpulkan jika ayah ingin anaknya untuk mengalahkannya. Ayah ingin anaknya lebih hebat daripadanya.


Tidak selalu dengan pujian yang mendorong, rasa cuek dan bahkan kadang seolah meremehkan apa yang telah kita raih itu adalah wujud dari rasa ingin dikalahkan.
Share
Tweet
Pin
Share
10 komentar

Surat ini kubuat diantara rasa malu yang bertarung dengan antusias semangat. Tanpa alamat yang jelas tapi satu kepastian, teruntuk jodohku yang menyerukan namaku lantang dalam untaian kalimat ijab dan qabul. Imam dunia
 dan -Insha Allah- Akhiratku, kelak.
Share
Tweet
Pin
Share
10 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Mia Candra S.
Karena mendaki kehidupan, akan lebih asyik jika diiringi SHIMfony yang bicara



Postingan Terakhir

    Entri Populer

    • BERHENTI BELAJAR JADI KORUPTOR!!!
    • Sekilas Tentang KCHP by Elita Duatnofa dan Aida MA
    • Karena Ayah ingin Dikalahkan Anaknya
    • Untuk Imam yang membawakan kehalalannya untukku
    • Sebuah Cerita dari The Coffe Memory

    Blog Archive

    • ▼  2014 (6)
      • ▼  November (1)
        • BERHENTI BELAJAR JADI KORUPTOR!!!
      • ►  Mei (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (24)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)

    Categories

    1/2 isi 1/2 kosong FlashFiction lagu Review Rupa-Rupa The Rising Gods of the East

    Sahabat Blogger

    Komunitas

    Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

    Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates